“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah Terbit Di Lomba Debat…
TIMOTHY SENSINYI
Timothy berasal dari Kerajaan Lesotho, sebuah negara kecil
yang terletak tepat di sebelah Utara negara Afrika Selatan.
Ia menuturkan kisahnya sebagai berikut:
Pendidikan Dasar
Saya dilahirkan pada tahun 1972 di sebuah desa bernama
Maseru yang berjarak dua-belas kilometer dari Ibukota
Lesotho. Pendidikan
dasar dan menengah pertama saya peroleh di sekolah Katolik
yang berada di dekat desa saya. Meskipun ada kewajiban
dari sekolah untuk muridnya supaya hadir ke Gereja Katolik
setiap
hari Minggu, saya seringkali menghindar. Namun, terkadang
saya bersama dengan nenek menghadiri kebaktian di gereja
Protestan.
Di
sekolah lanjutan atas, saya mendapatkan kesempatan untuk
belajar di sekolah berasrama yang terletak delapan kilometer
dari kota asal saya. Sekolah ini diselenggarakan oleh
Gereja Penginjil Lesotho. Induk gereja ini berada di Perancis
dan dikenal dengan nama Parish Evangelical Misionary
Society;
disingkat PEMS. Disini terdapat seorang pendeta muda
usia yang amat rajin memberikan pendidikan Kristiani kepada
kami.
Ia pernah berkata kepada murid-muridnya, “Seandainya
gereja tidak membiayai pendidikan saya, tentu saya telah
menjadi seorang Muslim sebab inilah satu-satunya Agama yang
sejalan dengan ajaran Kristiani.” Sebelum ia katakan
hal ini, saya tak kenal sedikitpun perihal Islam. Kepala
Sekolah ditempat saya belajar adalah seorang yang baik budi,
ia mendukung kami untuk ambil bagian dalam sebuah acara debat
dengan topik-topik semisal ‘Hidup membujang lebih utama
daripada Menikah’. Saya telah terbiasa ikut andil
dalam debat-debat semacam ini dengan semangat tinggi.
Pendidikan Tinggi
Saya memperoleh beasiswa dari pemerintah untuk belajar
di akademi teknik selama dua tahun. Kampusnya terletak
dekat
dengan Johannesburg Afrika Selatan. Disini, saya berhasil
meraih gelar dibidang Manajemen Pemasaran. Banyak peristiwa
menarik terjadi selama saya belajar disini.
Bangunan gereja-gereja PEMS memiliki ciri-ciri khas.
Didekat asrama saya terdapat sebuah gereja PEMS.
Sayapun bergabung
dalam kegiatan gereja ini dan mulai mengajar kelompok
remaja hal-hal yang pernah saya pelajari dari gereja
terdahulu.
Saya tidak mampu menyanyi dengan baik. Maka saya
mengusulkan beberapa kegiatan debat agar diselenggarakan
di gereja.
Merekapun meminta ijin kepada Pendeta setempat. Sang
Pendeta menyetujui
bahkan sangat bersemangat mempromosikan kegiatan
ini.
Kegiatan Debat
Delapan regu telah terbentuk untuk kegiatan ini.
Setiap regu beranggota empat orang, dua remaja
putra dan dua remaja
putri.
Topik ditentukan oleh Pendeta. Acara Debat berlangsung
setiap hari Minggu, dihadiri oleh jamaah gereja.
Pemenang debat
mendapatkan berbagai macam hadiah, diantaranya
Kitab Bibel dalam bahasa Lesotho.
Sebuah gereja PEMS di lingkungan terdekat juga
membentuk empat regu debat. Mereka biasanya mengadu
regu pemenang
dari gereja mereka melawan regu-regu pemenang dari
gereja kami.
Saya ikut serta dalam pertandingan ini. Topik pertama
dalam debat itu adalah ‘Trinitas’ (Tiga
Yang Tunggal). Regu saya ditugasi membuktikan bahwa Trinitas
adalah konsep
yang salah.
Secara kebetulan, saya berjumpa dengan seorang
pemuda bernama Ndavu di rumah seorang teman.
Ia memberi
saya rujukan lengkap
ayat-ayat Bibel untuk mendukung pandangan regu
kami. Sangat mengagumkan kami bahwasanya Ndavu
menghafal
ayat-ayat ini
di luar-kepala. Saya telah membaca kitab Bibel
versi King James, mulai bab Kejadian hingga Wahyu.
Namun
setelah membaca
lagi ayat-ayat yang dirujuk itu, saya sadari
bahwa saya tidak memahami Bibel. Saya berikan
beberapa
dari ayat-ayat
rujukan
itu kepada teman satu regu, merekapun sangat
gembira. Akhirnya, regu kami pun memenangkan
lomba debat.
Topik
dalam debat yang ke-dua adalah, ‘Yesus – Benarkah
Ia anak Tuhan?’ Regu kami menjadi penentang
pandangan ini. Sekali lagi saya menemui Ndavu
dan iapun memberikan
rujukan lengkap dari Bibel sehari kemudian.
Dan, regu kami pun memenangkan sesi debat ini.
Topik
debat yang ke-tiga bertajuk ‘Keaslian Kitab Bibel’.
Team kami bertugas membuktikan bahwa kitab
ini bukanlah kitab otentik mengingat bahwa
banyak pertentangan didalamnya.
Ndavu
membantu kami lagi, dan kami juga menjadi
pemenang sesi debat yang ke-tiga ini. Para jamaah gereja
menganggap debat itu
sebagai hiburan ataupun sekedar sebuah latihan
kecerdasan intelektual.
Saya jadi mengenal banyak pertentangan dalam
Kitab Bibel versi King James. Begitu pula halnya
pertentangan
antara
Bibel berbahasa Inggris dengan Bibel dalam bahasa
Lesotho. Ini semua menggoncangkan keimanan saya.
Saya bertanya kepada Ndavu, “Kamu jamaah gereja mana?” Ia
menjawab, “Saya tidak ke gereja manapun juga, sebab
para pendeta tidak mengajarkan kebenaran dan mereka tidak
merujuk ayat-ayat.” Ia balik bertanya kepada saya, “Apakah
yang kamu yakini dalam hal ketuhanan?” Saya katakan, “Saya
percaya kepada Tuhan yang tersebut dalam perintah pertama
untuk Musa. Misalnya, didalam Markus 12:28-30 dikatakan ‘Perintah
pertama berbunyi: Dengarlah wahai Israel, Tuhanmu adalah
Tuhan yang Tunggal, dan hendaklah engkau mencintai Tuhan,
Allah-mu dengan sepenuh hatimu, dan seluruh jiwamu, dan seluruh
akalmu, dan segenap kekuatanmu.” ‘
Ketika ia telah memahami pandangan saya perihal
ketuhanan, iapun menceritakan perihal saya kepada
beberapa temannya.
Kunjungan Seorang Asing
Di suatu hari Sabtu di bulan Maret 1996, seorang
pemuda datang kerumah saudara saya. Ia
mengenakan pakaian
berwarna putih
dan peci berwarna putih juga. Inilah pertama
kalinya saya melihat seorang Afrika berpakaian
sebagaimana
beberapa orang India. Pemuda itu berkata, “Saya sengaja datang untuk
menemuimu saudaraku sesama Muslim.” Saya katakan, “Saya
bukan seorang Muslim sebab saya tak tahu apapun perihal Islam
selain bahwa Islam adalah agama orang-orang India.” Ia
pun menegaskan, “Saya memberitahukan kepadamu, bahwa
kamu adalah seorang Muslim.” Saya sorongkan kursi kepadanya
dan mempersilahkannya untuk duduk agar kami bisa santai bercakap-cakap.
Mudah sekali bercakap-cakap dengannya karena ia dapat berbicara
menggunakan bahasa daerah saya. Saya minta tolong kemenakan
perempuan saya untuk membelikannya minuman ringan. Ia menolak
menggunakan gelas yang biasanya kami gunakan. Ia lebih suka
minum langsung dari botolnya. Saya pun bertanya, “Mengapa
kamu tidak mau menggunakan gelas kami?” Ia menjawab, “Saya
khawatir gelas itu pernah digunakan untuk minum minuman beralkohol.” Ia
benar. Maka saya minta tolong kemenakan
perempuan saya untuk membeli gelas baru
untuk kami
karena saya pun
membenci alkohol
semenjak saya meninggalkan minum minuman
beralkohol pada tahun 1988.
Ia bertanya, “Bagaimanakah imanmu kepada Tuhan?” Saya
katakan, “Saya mengimani Tuhan sebagai
satu-satunya Pencipta, satu-satunya yang
patut disembah, tidak beristri
dan tidak butuh makan dan minum untuk menjaga
kelangsungan hidup-Nya. Dia tak memiliki
orangtua. Itu semua disebutkan
didalam Bibel.”
Ia bertanya kepada saya soal Trinitas.
Saya katakan kepadanya, “Diantara
berbagai ajaran ayahku kepadaku adalah, Tuhan itu Esa dan
tiada satupun bandingan bagi-Nya. Saya lebih mempercayai
ayah saya daripada orang-orang lain. Menurut pemikiran saya,
konsep Bapa, Putra dan Roh Kudus didalam Trinitas saling
bertentangan satu sama lain.” Pemuda itu pun berkata, “Demikianlah
Islam.” Betapa terperenjatnya saya
waktu itu, sebab sebelum itu pengertian
saya tentang
Islam adalah
bahwa
Islam hanyalah agama bangsa India.
Pemuda
itu menambahkan, “Jika kita menilik didalam
Bibel, ajaran Kristus (Al-Masih) adalah Islami. Kontradiksi
antara ajaran gereja dengan ajaran Kristus adalah karena
Paulus yang membubuhkan banyak aturan dan hukum dalam epistel
(surat-surat) yang ditulisnya.” Saya percaya apa yang
dikatakan pemuda ini. Kemudian ia bertanya, “Adakah
keinginan pada dirimu untuk menjadi seorang Muslim, atau
untuk mengenal Islam?” Saya jawab, “Sesungguhnya,
Ya!” Ia katakan, “Saya mempunyai seorang teman,
seorang guru yang pengetahuannya perihal Islam lebih baik.” Saya
katakan, “Saya ingin bertemu dengannya.” Maka
kami berdua berangkat menemui temannya
karena jarak ke tempat temannya itu
hanyalah tigapuluh
menit berjalan-kaki
dari
rumah saya.
Mengucapkan Syahadat Sampai
di tempat tujuan, saya melihat orang yang dimaksud sedang
mengajar
sekelompok pelajar
dalam bahasa Inggris.
Saya dengarkan pelajaran yang ia
sampaikan dengan penuh perhatian. Sekitar satu jam kemudian
mereka berhenti
belajar dan melakukan
shalat. Saya hanya duduk disana memperhatikan
yang mereka sedang kerjakan.
Seusai
shalat para
pelajar
itu pulang
ke rumah masing-masing. Tinggallah
saya, sang guru, dan pemuda
teman saya berada disitu. Kami
saling memperkenalkan diri. Sang guru bernama
Abdur Rahman, pemuda
tamu saya bernama
Haroon.
Sheikh
Abdur Rahman menerangkan kepada saya makna Syahadat. Begitu
saya mengetahui
arti kalimat Syahadat
dalam bahasa Inggris, sayapun
mulai mengimani kalimat ini dalam
hati saya. Sheikh berkata, “Kamu boleh pulang dan memikirkan
kalimat itu. Kamu boleh mengikuti pelajaranku kapan saja
kamu anggap perlu.” Saya katakan kepadanya, “Sekarang
saya telah mengerti Syahadat dan oleh karena itu saya ingin
menjadi seorang Muslim.” Ia berkata, “Jangan
tergesa-gesa mengambil keputusan.” Saya katakan kepadanya, “Apa
yang anda dan Haroon sampaikan kepada saya perihal Islam
adalah sama dengan yang telah diajarkan ayah saya perihal
ajaran Kristiani yang sejati kepada saya. Maka saya hendak
mengikrarkan keIslaman saya.” Pada
saat itu juga saya mengucapkan dua
kalimat Syahadat;
dan segala puji
bagi Allah;
saya telah menjadi seorang Muslim.
Sheikh mengajarkan kepada saya cara
berwudhu (mensucikan
diri
menggunakan air). Ia
menyarankan agar saya pulang ke rumah,
mandi dan kembali lagi kemari pada
jam 4.00 sore
untuk bersyahadah di
hadapan para jamaah. Saya memilih
nama Abdullah Sensinyi untuk
nama saya yang Islami.
Sheikh mengajari saya setiap hari dari
Ashar hingga Maghrib selama dua minggu.
Setelah itu,
ia berangkat
ke luar negeri
untuk menempuh pendidikan tingkat lanjut.
Saya hanya sempat belajar Suratul-Fatihah
dalam bahasa
Inggris,
inilah yang
selalu saya baca didalam shalat saya
selama sekitar satu tahun. Sangatlah
sulit untuk mendapatkan
pegajar agama
Islam di sekitar tempat tinggal saya.
Suatu hari saya sedang berjalan-jalan
melihat-lihat di pertokoan dan
saya mendapati seorang
pemuda India yang
berdagang pakaian-pakaian
jadi di tokonya. Saya bertanya
kepadanya, “Apakah anda
Muslim?” Dengan bangga ia menjawab, “Ya.” Saya
katakan kepadanya, “Saya juga seorang Muslim.” Saya
pun memintanya menjelaskan perihal Islam kepada saya. Ia
berkata, “Pengetahuan saya tentang Islam sangat sedikit.” Saya
tanyakan kepadanya, “Adakah masjid di sekitar sini?” Ia
menjawab, “Ada satu, tetapi anda bisa melakukan shalat
dhuhur di toko saya berjamaah dengan saya.” Ia juga
mengajak saya untuk berkendara bersamanya pergi ke masjid
untuk shalat Jum’at setiap
minggu. Saya lakukan hal ini secara
teratur
selama setahun.
Sholat Ied Pertama
Sejauh itu, saya belum mengenal
apapun perihal Puasa dan Ied.
Suatu hari
Haroon menelpon
saya dan memberitahukan
bahwa akan dilaksanakan Shalat
Ied esok hari. Saya pun mengikuti
shalat Ied dan merayakan Iedil
Fitri. Saya berjumpa dengan banyak Muslim
Afrika dan juga kaum
Muslim dari suku
saya.
Saya juga berjumpa dengan Ndavu
disana, inilah pertama kalinya saya mengetahui bahwa
ia pun telah memeluk
Islam. Ia memilih
nama Bilal untuk nama Islaminya.
Saya bertanya kepada Bilal, “Bagaimana
kamu belajar merujuk ayat-ayat Bibel yang kamu gunakan untuk
membantu saya di acara debat?” Ia menjawab, “Rujukan
itu tertulis didalam dua buah buku karya Sheikh Ahmad Deedat.” Ia
hadiahkan buku-buku itu kapada saya dan juga Terjemahan Kitab
Suci Al-Qur’an dalam
bahasa Inggris oleh Abdullah
Yousuf Ali.
Inilah pertama
kalinya
saya mengikuti kegiatan
sosial
Islam. Saya dapati semua orang
amat sangat berbahagia dan
mereka sangat
baik terhadap
saya. Seusai shalat
Dhuhur kami
kembali ke tempat tinggal kami.
Saya menyelesaikan kuliah pada
bulan Juli
tahun 1997 dan kembali
ke Lesotho.
Pendidikan Dasar Islam
Saya mengetahui seorang tetangga
saya di desa biasa menulis
dengan huruf
Arab. Maka saya
tanyakan kepadanya, “apakah
anda Muslim?” Ia menjawab, “Benar.” Kemudian
ia menambahkan, “Sayangnya,
saya tidak menjalankan ajaran
Islam.” Ia memberitahu
saya keberadaan Masjid Thabong
di Ibukota. Di suatu pagi
kami berdua berjalan kaki
sejauh duapuluh kilometer
untuk belajar Islam di masjid
ini.
Disini menyelenggarakan sekolah
Islam pada setiap akhir pekan.
Saya bersama tetangga saya,
Basheer, dapat mengikuti
pelajaran karena pihak masjid
menyediakan sarana transportasi
untuk
kami. Atas bimbingan dan
saran dari guru saya, Tn.
Mahmood, saya dapat diterima
mondok di sekolah berasrama
yang bernama
Assalam Educational Institute
(Lembaga Pendidikan Assalam)
di Braemar yang terletak
sekitar 150 km. dari kota
Durban. Saya belajar disini
selama delapan bulan dan
selanjutnya
saya kembali ke rumah. Wakil
Kepala Pendidikan memberi
saya Kitab The Noble Qur’an
(Al-Qur’anul
Karim) dengan terjemahan
dalam bahasa Inggris oleh
Dr. Mohsin
Ali.
Mendakwahkan Islam
Untuk menunjang kebutuhan hidup,
saya mulai berjualan pakaian.
Saya juga mulai
mensyiarkan Islam. Saya
lakukan ini bekerjasama
dengan Basheer tetangga saya.
Atas Rahmat Allah, dalam satu
tahun dua belas keluarga
memeluk Islam
melalui usaha
kami
yang tak seberapa.
Saya dan Basheer mengajukan permintaan
kepada pemancar siaran
radio daerah kami agar menyediakan
waktu
bagi kami untuk
memperkenalkan Islam.
Radio Pemerintah mengijinkan perwakilan-perwakilan
dari kaum Muslim, Kristen,
dan kepercayaan Bahai,
untuk
menyiarkan presentasi
ringkas di radio. Siaran selalu diikuti
dengan
telepon dari pendengar
dan masing-masing agama dapat mempertahan pandangan
mereka masing-masing.
Jaringan Televisi Lesotho
mengundang saya dan
Basheer untuk menyajikan
perihal Iedil Fitri
kepada pemirsa.
Acara ini
mendapat sambutan hangat
dari umat Muslim dan
banyak dari kaum
Kristiani yang menjadi
sangat
ingin tahu
lebih banyak
perihal Islam. Sementara
itu, Abdul Karim, seorang
akhi Muslim
dari Tunisia, membeli
waktu-siar
di sebuah radio
swasta bernama
Joy FM Voice of America,
di Ibukota. Ia mengundang
saya dan seorang
akhi bernama Rafiq,
untuk mengisi acara mingguan
perihal Islam. Kami
menjalankan acara
ini selama lebih kurang
satu tahun.
Sebuah
delegasi dari Saudi mengunjungi Ibukota
kami.
Atas arahan dan
pertolongan akhi
Mahmood dan akhi
Abdul Karim,
Saya melamar untuk
belajar ke Universitas
Islam
Madinah Al-Munawarah
pada
tahun 1999. Satu
setengah tahun
berlalu, tak ada
jawaban atas lamaran itu. Saya
mulai bekerja di
perusahaan konstruksi
jalan
yang cukup jauh dari
tempat tinggal saya.
Penyelia
saya membuat hidup
saya terasa lebih
menderita akibat pemikiran saya
yang Islami. Abdul
karim
menasehati
agar saya berpuasa
dan lebih banyak
membaca Al-Qur’an supaya Allah mengangkat
kesulitan yang saya hadapi. Mulailah saya lakukan puasa sunnah
Senin-Kamis dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Atas persetujuan lembaga
yang berwenang, saya
juga memulai
mengajar pada kelompok
belajar beranggotakan
sekitar seratus
narapidana setiap Minggu
sore. Para narapidana
berhasil mengeluarkan
pendeta pengajar
mereka yang
berasal
dari Assembly of God
karena sang pendeta
tidak mengijinkan
mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Saya mengajar
disana selama
tiga bulan dan kemudian
saya harus berpindah
dari tempat itu.
Saya sangat bergembira
mendapatkan surat penerimaan
dari Universitas
Islam Madinah
Al-Munawarah pada
bulan Juli
2001. Alhamdulillah,
saya masuk universitas
pada bulan September
2001. Disini saya harus
belajar bahasa
Arab selama dua tahun
sebelum melanjutkan
belajar Islam secara
formal di
universitas.
Saya sangat senang
di Madinah Al-Munawarah.
Beberapa sanak-saudara
saya pun telah
memeluk Islam melalui
dakwah yang saya sampaikan.
Semoga Allah SWT menerima
amaliyah
saya yang tak seberapa
ini dan menguatkan
iman dan amal
Islami
saya.
Harapan Saya
Setelah menengok kembali
peristiwa-peristiwa
kehidupan yang
saya lalui, saya
menyimpulkan
bahwa fasilitas pendidikan
Islam di negara-negara
Afrika amat
sangat kurang.
Mutu
pendidikannya
pun sangat
rendah. Maka tingkat kemajuan
keberhasilan
dakwah pun
begitu lambat.
Ini semua melemahkan
hati para Mualaf
(para Muslim
baru). Amat sangat sulit mendapatkan
guru-guru agama
Islam yang
tulus dan berbobot.
Oleh karena
itu, saya berharap
kepada para
orangtua agar
mengarahkan
sekurang-kurangnya
satu dari
anak-anak mereka
yang cerdas
menjadi
guru. Hanya
para gurulah
yang sanggup
mengubah arah
sebuah bangsa.
Saya
juga
menghimbau
kepada para
Muslim yang
berkelimpahan
harta agar
mendirikan
lebih banyak
lagi Lembaga-lembaga
Islam dimana
mereka bisa
dan sanggup
mengelola secara
profesional.
Inilah, yang
sesungguhnya
merupakan investasi
terbaik dan
ganjarannya
pun sangat
tak terkirakan.
Semoga
Allah
SWT membimbing
kita ke
Jalan-Nya
yang Lurus. Amiin.
|